Sentimen Sanksi Iran Mewarnai Harga Minyak Dunia yang Stabil

Harga minyak dunia dikabarkan bergerak relatif stabil di sepanjang pekan yang lalu. Pergerakan masih juga dipengaruhi oleh sentimen kemungkinan pengenaan sanksi judi poker online baru dari Amerika Serikat pada Iran. Sanksi Pengaruhi Harga Minyak Dunia Dilansir dari CNN Indonesia, harga minyak mentah Brent berjangka di hari Jumat (27/4) lalu pasalnya ditutup pada level US$74,46 per barel atau bisa dikatakan naik sebesar 0,5% secara mingguan. Pada bulan ini, harga Brent sempat mencapai angka US75 per barelnya atau harga yang paling tinggi sejak akhir tahun 2014. Sementara itu, harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) berjangka pasalnya turun tipis sebesar kira-kira 0,5% secara mingguan dan menjadi US$68,10. Berdasarkan CTFC (Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas AS, para pelaku pasar memangkas kombinasi kontrak berjangka dan juga opsi minyak mentah AS di New York dan juga di London sebesar 17.021 kontrak kemudian menjadi 455.855 sepanjang pekan yang pasalnya berakhir pada tanggal 24 April. Presiden AS Donald Trump akan memutuskan tentang rencana pengenaan sanksi baru pada Iran pada tanggal 12 Mei esok. Sebagai catatan, AS dengan 6 negara adi kuasa yang lainnya membuat kesepakatan dengan Iran tentang program nuklir yang tengah dikembangkan oleh mereka. Pengenaan sanksi yang baru kemungkinan bakal menurunkan ekspor minyak Iran dan juga menganggu pasokan minyak global pada umumnya. "Hal tersebut adalah faktor paling besar penggerak pasar saat ini. Oleh karena itu, Anda menyaksikan volatilitas yang rendah pada hari ini (Jumat tanggal 27/4) dan sebagian besar pekan ini," ungkap Rob Thummel, Manajer Portfolio Trtoise Capital di Leawood, Kansas. Dalam perhitungan bulanan yang mana sampai tanggal 27 April 2018, Brent pasalnya telah menguat sampai dengan level 6% sedangkan WTI sendiri bergerak naik sampai hampir 5%. Penguatan harga minyak ini sendiri terjadi walaupun kurs dolar AS menguat melawan sekeranjang mata uang lainnya ke level paling tingginya sejak bulan Januari tepatnya tanggal 11 yang lalu. Sebagai catatan saja, penguatan dolar memang tak bisa dipungkiri membuat komoditas yang diperdagangkan dengan mata uang dolar AS menjadi relatif lebih mahal untuk pemegang mata uang yang lainnya. Perhatian pada pengetatan pasar pun dipicu oleh merosotnya kondisi politik serta perekonomian yang ada di Venezuela yang bisa membuat penurunan produksi minyak mentah sebesar 40% sepanjang dua tahun terakhir. Sisi Lain Harga Minyak Dunia Naik Di sisi yang lainnya, kenaikan harga minyak mentah ini dibatasi oleh produksi minyak mentah AS yang naik seiring denfan peningkatan aktivitas pengeboran minyak yang ada di shale. Hal ini pun membuat diskon harga Brent pada WTI akhirnya melebar ke level paling besarnya sejak bulan Desember 2017 menjadi US $6,74 per barel. Peningkatan produksi minyak Amerika Serikat, yang naik ke level 10,59 juta per barelnya per hari pada pekan yang lalu, pasalnya telah membantu ekspor minyak AS dan memecahkan rekor. Baker Hughes sendiri mencatatkan pengeboran minyak AS menambah 5 rig di pekan yang lalu dan membuat jumlah rig minyak yang beroperasi di Amerika Serikat naik menjadi 825 rig. Harga tersebut adalah harga yang paling tinggi sejak bulan Maret 2015. Sepanjang bulan ini sendiri, jumlah rig AS sudah meningkat yakni sebesar 28 rig. Sementara itu produsen minyak mentah AS bisa mempercepat aktivitas pengeboran di sejumlah kawasan di AS.